ULANGAN B. INDONESIA MATERI TKA
1.Macam-macam Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Karya Sastra
Unsur Intrinsik → unsur yang membangun karya sastra dari dalam, artinya terdapat di dalam teks karya itu sendiri.
📚 Macam-macamnya:
1. Tema – gagasan pokok atau ide utama cerita.
Contoh: tema persahabatan, perjuangan, cinta tanah air.
2. Tokoh dan Penokohan – pelaku dalam cerita dan bagaimana sifatnya digambarkan.
Contoh: tokoh utama yang berani dan jujur.*
3. Alur (Plot) – rangkaian peristiwa dari awal sampai akhir cerita.
Contoh: alur maju, mundur, campuran.*
4. Latar (Setting) – tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa.
Contoh: di Jakarta, tahun 1945, suasana perjuangan.*
5. Amanat – pesan moral yang ingin disampaikan pengarang.
Contoh: pentingnya kejujuran dan kerja keras.*
6. Sudut Pandang (Point of View) – cara pengarang menyajikan cerita.
Contoh: orang pertama (“aku”), orang ketiga (“dia”).*
7. Gaya Bahasa (Majas) – cara pengarang mengungkapkan sesuatu dengan keindahan bahasa.
8. Konflik – pertentangan yang terjadi dalam cerita, bisa batin maupun dengan orang lain.
Unsur Ekstrinsik → unsur yang mempengaruhi karya sastra dari luar teks.
📘 Macam-macamnya:
1. Latar belakang pengarang – pendidikan, pengalaman, dan pandangan hidupnya.
2. Nilai-nilai kehidupan – nilai moral, sosial, budaya, agama, dan politik.
3. Situasi sosial dan sejarah – kondisi masyarakat atau zaman ketika karya itu ditulis.
4. Lingkungan dan budaya – adat, kebiasaan, serta norma yang memengaruhi karya.
2. Istilah-istilah dalam Cerpen, Drama, dan Puisi
A. Cerpen (Cerita Pendek)
Tema → pokok pikiran utama cerita.
Tokoh → pelaku dalam cerita.
Penokohan → penggambaran sifat tokoh.
Alur → jalan cerita dari awal hingga akhir.
Latar → tempat, waktu, suasana.
Sudut Pandang → cara pengarang menyampaikan cerita.
Amanat → pesan moral.
Konflik → masalah atau pertentangan dalam cerita.
B. Drama
Naskah → teks yang memuat dialog dan petunjuk akting.
Dialog → percakapan antar tokoh.
Prolog → pengantar sebelum cerita dimulai.
Epilog → penutup cerita.
Babak → bagian besar dari sebuah drama.
Adegan → bagian kecil dari babak.
Pemain (Tokoh) → orang yang memerankan karakter.
Setting panggung → tempat dan perlengkapan pertunjukan.
C. Puisi
Diksi → pemilihan kata dalam puisi.
Rima → persamaan bunyi di akhir baris.
Irama → tinggi rendah, panjang pendek, keras lembutnya bunyi.
Majas → gaya bahasa kiasan.
Tipografi → bentuk tata letak baris dalam puisi.
Kata konkret → kata yang menimbulkan imaji atau gambaran nyata.
Citraan (imaji) → kesan yang ditimbulkan oleh kata (penglihatan, pendengaran, perasaan).
Makna/amanat → pesan yang disampaikan penyair.
3. Persamaan dan Perbedaan Pantun dengan Syair
Aspek Pantun Syair
Asal Melayu Arab (masuk ke Melayu)
Jumlah baris tiap bait 4 baris 4 baris
Rima a-b-a-b a-a-a-a
Isi baris Baris 1–2 sampiran, 3–4 isi Semua baris berisi isi
Makna Biasanya berisi nasihat, jenaka, atau cinta Biasanya berisi nasihat, agama, atau kisah
Persamaan Sama-sama puisi lama, bersajak, dan berirama indah
4. Refleksi Majas-majas dalam Bahasa Indonesia (Pengertian dan Contoh)
1. Majas Perbandingan
Majas Simile → perbandingan langsung memakai kata seperti, bagaikan, laksana.
Contoh: Wajahnya seindah bulan purnama.
Majas Metafora → perbandingan tanpa kata penghubung.
Contoh: Ia adalah bunga desa.
Majas Personifikasi → benda mati seolah-olah hidup.
Contoh: Angin berbisik lembut di telingaku.
Majas Alegori → perbandingan berkesinambungan, biasanya berupa cerita.
Contoh: Hidup adalah perjalanan panjang menuju cahaya.*
2. Majas Pertentangan
Majas Hiperbola → melebih-lebihkan.
Contoh: Suaranya menggetarkan seluruh bumi.*
Majas Litotes → merendahkan diri.
Contoh: Silakan mampir ke gubuk sederhana saya.
Majas Ironi → sindiran halus.
Contoh: Rajin sekali kamu datang, jam sepuluh baru muncul!
3. Majas Penegasan
Majas Repetisi → pengulangan kata.
Contoh: Aku rindu, aku rindu, aku rindu dia.
Majas Paralelisme → pengulangan struktur kalimat.
Contoh: Aku mencintai pagi, aku mencintai malam.
Majas Klimaks → dari yang rendah ke tinggi.
Contoh: Dari anak kecil, remaja, hingga orang tua ikut lomba.
4. Majas Sindiran
Majas Sarkasme → sindiran kasar.
Contoh: Dasar pemalas, kerja sedikit saja sudah mengeluh!
Majas Sinisme → sindiran langsung tapi tidak terlalu kasar.
Contoh: Kamu pintar, tapi sayang malas belajar
Komentar
Posting Komentar